12/02/2026
SELAMETAN WETON
Selametan ini sering disebut bancakan weton, adalah tradisi masyarakat Jawa yang berlangsung untuk memperingati hari kelahiran dalam hitungan kalender Jawa setiap 25 hari sekali (selapan), sebagai wujud syukur sekaligus menyampaikan harapan dalam setampah makanan yang disajikan untuk kemudian dibagikan.
Bancakan weton bertujuan untuk mengingat jasa pamomong (pengasuh jiwa), wujud rasa syukur kepada Tuhan Allah yang telah memberi penjagaan dan perlindungan. Pelaksanaan bancakan weton dilakukan dengan menggunakan ubarampe dan tata cara tertentu.
Diantara makna simbolis dari menu bancaan antara lain:
1) Tumpeng (tumuju marang Pengeran/menuju kepada Tuhan), simbol gunung dan doa harapan kepada Tuhan.
2) Ayam ingkung (ingsun tansah manekung), simbol sujud menyembah kepada Tuhan.
3) Gudhangan atau kulupan atau urap, yang terdiri dari : a) bayem/bayam (adem ayem), simbol ketenteraman; b) kacang panjang/dawa (yuswa dawa), simbol umur panjang; c) cambah/kecambah (tansah semrambah), simbol kesuburan; d) kluwih (luwih-luwih), simbol hidup berkecukupan; e) kangkung (jinangkungan dening Gusti Kang Murbeng Dumadi) simbol selalu mendapat perlindungan dari Tuhan.
4) Telur rebus, simbol asal mula kehidupan,
5) Bumbu urap atau sambel gudhangan, terdiri dari kelapa muda diparut diberi bumbu, simbol kehidupan yang terdiri dari manis, pahit, dan getir.
6) Jajan pasar, memiliki makna umum urip yen dhasar tatanane Gusti temtu ora bakal nyasar (hidup kalau mengikuti aturan Tuhan tidak akan salah jalan).
7) kembang telon/kembang tetaman, terdiri dari: a) bunga mawar (awar-awar), simbol agar tawar dari nafsu negatif; b) bunga melati (melat-melat ning ati), simbol selalu eling (ingat) lan waspada; c) kanthil (tansah kumanthil), simbol hati yang selalu bergantung kepada Tuhan.
8) Jenang abang putih, ( bubur merah putih) simbol kelahiran anak sebagai akibat hubungan timbale balik ayah dan ibu). Hal ini menjadi pepeling (peringatan) agar kita jangan sampai mengkhianati orang tua.
9) uang logam (koin) yang diletakkan di bawah tumpeng, dengan makna bahwa konsep uang dalam masyarakat Jawa adalah berada di bawah, jangan sampai mengagung-agungkan uang dan harta bukanlah segalanya.
Hubungan makna moral dan makna spiritual bancakan weton dan Kejawen hanya pada keyakinan atas konsep harmoni, sedulur papat lima pancer dan pengendalian nafsu manusia/olah rasa, bukan pada suatu bentuk ritual suatu ajaran agama.