19/04/2026
.rex96
Cup! Cup! Cup!
Suara k€cupan basah yang terdengar nikm∆t itu menggema berulang kali di ruangan yang sunyi.
“∆wh …!” Stella menger4ng dan mengerjapkan matanya perlahan dengan berat seperti membawa batu di dalam batok kepalanya. Pandangannya buram, napasnya terasa aneh, dan tubuhnya lemas.
Apa … yang terjadi?
Ia mencoba mengangkat tangan, tapi terasa berat. Saat matanya akhirnya terbuka penuh, pemandangan di depannya langsung membuat jantungnya hampir copot.
Seorang pria sedang menunduk di l€hernya. Meng€cupi tulang s€langkanya dengan penuh khidmat.
Bukan pria sembarangan, wajahnya terlalu tampan untuk ukuran manusia biasa-biasa saja. Rah∆ngnya tegas seperti pahatan surgawi, hidungnya mancung, dan mata tajamnya setengah terpejam saat bibirnya menyentuh kulit Stella seolah itu candu favoritnya.
Dan yang paling menyebalkan … aura psik0 itu masih sama seperti dulu.
Stella langsung tersentak shock. “K-Kharel?! Kamu! Dasar lelaki gil∆! Kamu ngapain?!”
Pria itu berhenti, lalu perlahan mend**gak. Wajah mereka sekarang cuma berjarak beberapa sentimeter saja. Napasnya hangat dan sudut bibirnya terangkat seperti singa yang baru saja menangkap ‘rusa’nya.
“Kamu pikir …,” gumamnya dengan suara bariton yang menggetarkan jiwa kaum hawa, “kamu bisa lari dari aku?”
Stella meneguk lud∆h.
Ya … dia memang sedang kabur. Sudah sebulan ini dia membl0okir nomor Kharel. Menghapus semua chat antara mereka berdua. Menghilang dari apartemen yang dibelikan pria itu, bahkan sampai resign dari pekerjaannya.
Tapi, tak pernah sedikit pun terlintas di kepalanya kalau lelaki ini akan segila ini! Ya Tuhan!
Stella menatap sekeliling dengan panik. Ruangan ini bukan apartemennya. Dia langsung mencoba mendorong tubuh Kharel.
“Tuan Muda Wiratama!” bentaknya, “kontrak kita udah selesai sebulan yang lalu!”
Kharel tidak bergeming sedikit pun. Justru matanya menyipit, lalu perlahan ia menggigit bibir bawahnya, seperti sedang menahan sesuatu yang lebih liar dari sekadar amarah.
“Selesai?” ulangnya pelan dengan suara bariton itu.
Tangannya turun ke perut Stella. Telapak besar itu berhenti di sana, mengelus perlahan perut yang masih ramping itu.