27/01/2026
Hai, kalian kenal Ahnaf bin Qais nggak?
Beliau adalah salah satu ulama besar dari kalangan tabi’in. Namanya sering disebut ketika para sejarawan Islam membahas tentang kecerdasan, ketenangan jiwa, dan kemampuan mengendalikan diri. Ahnaf bin Qais dikenal bukan karena suaranya keras atau langkahnya tergesa-gesa, tetapi karena sikapnya yang sangat tenang dalam menghadapi apa pun. Bahkan ketika dihina di depan umum, ia memilih diam. Bukan karena lemah, tetapi karena ia tahu, tidak semua hal layak dipikirkan, apalagi diributkan di dalam hati.
Suatu hari, ada seseorang yang sengaja memancing emosinya dengan kata-kata kasar. Ahnaf bin Qais hanya tersenyum dan berkata kurang lebih begini: “Jika apa yang kau katakan itu benar, semoga Allah mengampuniku. Jika tidak benar, semoga Allah mengampunimu.” Selesai. Tidak ada debat panjang, tidak ada luka batin yang dipelihara berhari-hari. Ia paham, pikirannya terlalu berharga untuk diisi oleh hal-hal yang tidak membawa manfaat.
Dari sini kita belajar satu hal penting: overthinking sering kali bukan karena masalahnya besar, tetapi karena kita memberi ruang terlalu luas di kepala kita untuk hal yang sebenarnya tidak perlu menetap lama-lama.
Banyak orang lelah bukan karena bekerja, tetapi karena pikirannya tidak pernah berhenti berlari. Memikirkan ucapan orang lain, menebak-nebak masa depan yang belum tentu terjadi, atau mengulang-ulang kesalahan masa lalu yang sudah selesai. Padahal, hidup selalu berjalan di satu waktu saja: saat ini.
Para ulama terdahulu sangat menjaga pikirannya. Mereka memilah, mana yang perlu direnungkan, mana yang cukup diserahkan kepada Allah. Bagi mereka, berpikir itu ibadah jika membawa pada ikhtiar dan tawakal. Namun jika berpikir hanya berujung cemas dan gelisah, itu tanda bahwa hati sedang lupa pada tempat bersandar.
Nasihatnya sederhana dan sangat membumi: kerjakan apa yang bisa kamu kerjakan hari ini. Doakan apa yang belum kamu kuasai. Lepaskan sisanya. Tidak semua pertanyaan harus dijawab sekarang. Tidak semua kekhawatiran harus dicari solusinya malam ini.
Kalau pikiran mulai ramai, berhentilah sejenak. Tarik napas. Ingat bahwa Allah tidak pernah lalai, meski kamu sedang bingung. Seperti Ahnaf bin Qais, tenang bukan berarti tidak peduli, tetapi tahu kapan harus berpikir, dan kapan harus mempercayakan.
Hidup akan terasa lebih ringan saat kita berhenti memikul beban yang sebenarnya bukan jatah kita.