04/06/2026
Patrem.
Kata ini cukup familiar ditelinga kita para pembangga keris. Banyak fersi terkait kata patrem ini. Ada yang bilang keris ukuran pendek, walaupun bentuknya macam-macam, yang penting ukurannya pendek disebut patrem. Ada p**a yang mengatakan keris untuk kaum wanita. Ada p**a yang berasumsi keduanya.
Di Bali, patrem ini nama wangun keris. Dokumentasinya ada pada gambar yang pada bagian tengah. Bentuknya jelas digambarkan dengan aksara Bali dibagian bawahnya yang jika dibaca : Patrem.
Saya mendiskusikan ini dengan beberapa sahabat dan guru praktisi aksara Kawi dan Aksara Bali. Dari hasil analisa para pakar aksara, saya simpulkan makna linguistik dari patrem adalah senjata yang biasanya digunakan perempuan. Ajik Gusti Suarbhawa, ahli epigraf dari BRIN sempat mengatakan, semacam senjata rahasia kaum wanita. Beberapa kawan praktisi aksara ada yg mengatakan penggunaan dijadikan semacam tusuk konde atau diikat ke selendang dan diluncurkan kelawan.
Tafsir ini kalau saya tarik benang merahnya adalah wanita. Patrem adalah keris feminim dengan bentuk seperti digambar tengah yang lazim dikatakan sepang kalau di jawa.
Berbekal dari keterangan para guru dan ahli aksara, saya sebagai maker mencoba menerjemahkan gambar dua dimensi ini menjadi benda nyata. Namun disini saya memodifikasi dan mempertegas sifat feminim dari keris patrem ini. Ditambahkan beberapa ornamen semacam pita pada bagian bawahnya dan membentuk stilisasi Balu Mekabu / Durga pada bagian gandiknya. Penjabaran detailnya nanti saya akan buatkan vidio tersendiri supaya jelas.
Kakawin Sumanasantaka, karangan Empu Monaguna di abad ke 13
lontar 10 bait 36
"Canto 36
nā ling śrī parameśwarī nĕhĕr apatrĕm amĕkasi hurip sirâsĕgu
himpĕr warṣa tibā nikang luh i Widarbhanagara humilī mawah-wahan
sambat-sambat ikang sarājya gumĕrĕh kadi kĕtĕr i gĕrĕh ning ampuhan
tawwan ring kusumângjrah ing masa kapat paḍa ni tangis ikā n* rinĕngwakĕn"
saya terjemahkan bebas, konteksnya sang ratu bunuh diri menyusul suaminya yang meninggal
Inilah kalimat dari sang Ratu, dia menusuk dirinya sendiri dengan PATREM (milik suaminya, sang Raja) dan memutus nyawanya.
air mata yang tumpah di tanah Widarbha seperti hujan yang menjadi banjir
Kedukaan di seluruh kerajaan seperti suara petir dan guntur
suara mereka yang meratap seperti dengungan lebah di tengah ladang bunga…. (Donny Winardi)
Cihayyy…