Picasso Rugs & Carpets

Picasso Rugs & Carpets Pusat Karpet Permadani Klasik, Karpet Sajadah, Karpet Minimalis Import. Kami spesialis KARPET MASJID kualitas premium.

Melayani pembelian dan pengiriman ke seluruh Indonesia

Kami juga memiliki koleksi karpet permadani klasik dengan ukuran : 120x170, 160x230, 200x300, 240x340, 300x400 dan 400x600. Gerai kami berlokasi di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya

Hubungi kami di nomor 08111993500

 Lampu masjid redup.Jam menunjukkan hampir pukul 11 malam.Mbah Taryo belum juga rebah.Ia masih duduk bersandar di tiang ...
06/05/2025



Lampu masjid redup.
Jam menunjukkan hampir pukul 11 malam.
Mbah Taryo belum juga rebah.
Ia masih duduk bersandar di tiang kayu, memeluk lutut, menatap gelap di luar jendela.

Tak lama, pintu samping dibuka pelan.
Pak Marbot masuk membawa termos kecil.
Ia mendekat, lalu duduk di samping Mbah Taryo tanpa banyak suara.

“Belum ngantuk, Mbah?”

Taryo menoleh pelan, tersenyum kecil.

“Lagi nggak bisa tidur, Pak Marbot.”

“Pikiran?”

Taryo mengangguk.

Hening sejenak. Hanya suara air dituang ke cangkir plastik.
Pak Marbot menyodorkannya.

“Ini teh manis. Sisa dari anak-anak ngaji tadi sore. Masih hangat dikit.”

Taryo menerimanya dengan dua tangan.
Tak ada basa-basi.

“Sampean nggak pernah bosen ya, Mbah, balik ke sini tiap malam?”
“Masjid ini… udah kayak rumah.”

Pak Marbot tertawa kecil, lirih.

“Rumah yang gak pernah protes walau gak bayar sewa, ya?”

Taryo tertawa juga. Tapi cepat kembali diam.
Lalu pelan-pelan berkata:

“Aku tahu tempat ini bukan buat selamanya, Pak. Tapi kadang… cuma di sini aku merasa gak usah pura-pura kuat.”

Pak Marbot tak menjawab. Hanya menepuk pelan bahu Taryo.

“Saya juga sering duduk di pojok itu, Mbah. Kadang nangis sendiri.”
“Lho, Pak Marbot kok…”
“Marbot juga manusia, Mbah. Bukan makhluk gaib.”

Taryo tersenyum. Matanya mulai hangat.

“Anak-anak saya jarang telepon sekarang.
Saya juga nggak mau ganggu.
Tapi ya itu…
kadang pengin ngerasa dicari. Walau cuma ditanya udah makan apa belum.”

“Saya juga.”
“Dan masjid ini… ya paling tidak, dia gak usir kita.”

Mereka diam lama. Teh di tangan mulai dingin.
Tapi hati yang tadi beku, perlahan mencair.

Lalu sebelum beranjak, Pak Marbot berkata:

“Mbah… besok pagi, bantuin saya ya ngangkat karpet. Mau dicuci.”
“Siap. Selama saya masih kuat, saya bantu.”

Pak Marbot tersenyum.

“Selama masih ada yang bisa dibantu, kita ini masih ada gunanya, Mbah.”

Taryo mengangguk.
Tapi dalam hatinya, ia ingin bilang lebih dari itu:

Bahwa obrolan seperti malam ini—sekilas ringan—
adalah satu-satunya cara ia merasa… tidak benar-benar sendirian di dunia yang terus berjalan.

Dan malam pun melanjutkan sunyinya.
Tapi tidak lagi terasa terlalu dingin.

 Masjid itu sepi.Sudah lewat pukul sepuluh malam.Hanya suara kipas angin tua dan detik jam dinding yang terdengar.Pak Ta...
05/05/2025



Masjid itu sepi.
Sudah lewat pukul sepuluh malam.
Hanya suara kipas angin tua dan detik jam dinding yang terdengar.

Pak Taryo duduk di saf paling belakang, punggung bersandar ke tiang kayu.
Sarungnya lusuh, dan jaket tuanya jadi satu-satunya selimut malam ini.
Ia sudah biasa tidur di masjid.
Bukan karena sedang i’tikaf.
Tapi karena memang tidak ada lagi tempat pulang.

Rumah kontrakan terakhir sudah tak mampu ia bayar.
Anak-anaknya sudah besar, tapi hidup mereka pun masih terseok.
Tak mungkin ia menambah beban.
Istrinya… sudah lama berpulang.

Ia menghela napas panjang.
Langit-langit masjid ditatapnya kosong.
Lalu ia bicara.
Bukan untuk siapa-siapa.
Hanya untuk dirinya sendiri… dan Allah, kalau Allah masih mau dengar.

“Taryo, kamu capek, ya?”
“Iya. Tapi gak tahu harus istirahat di mana lagi selain di sini.”
“Kamu pengen nangis, ya?”
“Iya. Tapi nanti aja. Gak enak sama sajadah ini.”

Ia tersenyum kecil. Pahit.
Lalu menarik sarungnya lebih tinggi menutup dada.

“Tadi siang lihat anak kecil ngaji rame-rame.
Satu dari mereka bilang, ‘Pak, bapak ngurus masjid ya?’
Padahal aku cuma numpang tidur.
Tapi aku jawab, ‘iya.’
Karena kalau aku jawab ‘tidak,’ nanti aku gak ada alasan untuk tetap di sini.”

Matanya mulai berkaca. Tapi tak jatuh.
Mungkin karena ia sudah terlalu lama menyimpan semuanya sendirian.

“Ya Allah,
aku gak minta dimuliakan.
Aku cuma pengen…
ada yang ingat kalau aku masih ada.”

Ia tengok kanan-kiri. Masih sendiri.

“Kalau besok aku gak bangun lagi,
siapa yang tahu?”
“Siapa yang bakal cari?”
“Apa cuma azan Subuh yang sadar aku udah diam terlalu lama?”

Ia tutup matanya sebentar.
Bukan untuk tidur. Tapi untuk belajar ikhlas.

“Taryo...
mungkin kamu bukan siapa-siapa lagi.
Tapi kalau Allah masih izinkan kamu hidup,
berarti ada yang bisa kamu jaga...
meskipun cuma sajadah, dan sedikit sisa harga diri.”

Angin dini hari masuk dari jendela kecil.
Pak Taryo meringkuk lebih dalam.
Suara tubuhnya pelan. Tapi suara hatinya—
malam itu, menggema ke langit,
dengan lirih yang tak terdengar siapa-siapa…
kecuali Dia yang tak pernah tidur.

Pak Taryo berhenti di bawah pohon trembesi, menuntun sepedanya pelan-pelan. Bukan karena lelah, tapi karena perutnya mul...
05/05/2025

Pak Taryo berhenti di bawah pohon trembesi, menuntun sepedanya pelan-pelan. Bukan karena lelah, tapi karena perutnya mulai melilit.

Dari pagi ia sudah keliling tiga dusun, membantu memperbaiki engsel pintu, menambal selang bocor, dan mengecek kabel lampu yang korslet. Tapi belum satu pun yang benar-benar membayar. Beberapa hanya memberi janji, sisanya memberi terima kasih.

Ia tak pernah marah. Ia terlalu tua untuk berharap dari manusia, dan terlalu biasa dengan rasa lapar.

Di kantong bajunya, hanya ada lembaran lima ribuan yang sudah lecek. Tak cukup untuk membeli nasi pecel dan teh hangat kesukaannya di warung Bu Menuk.

Ia duduk di bangku bambu, memandang sawah yang mengering, lalu ke langit yang terlalu terang.

“Allah, mungkin hari ini belum rezekiku kenyang…”

Tangannya mengelap peluh. Lalu ia buka kotak kecil di sepedanya—di sana ada dua kue getuk yang ia simpan dari hajatan minggu lalu. Sudah keras. Tapi masih cukup untuk mengganjal.

Ia makan pelan. Bukan karena menikmati, tapi supaya tidak cepat habis.

Lalu matanya menangkap sekelompok anak kecil pulang sekolah. Salah satunya, Tomo, berhenti dan menyapa, “Mbah, istirahat dulu ya… nanti sore saya ke masjid, kita bersih-bersih bareng.”

Pak Taryo tersenyum, pelan sekali.

Di tengah siang yang panas, dengan perut yang belum benar-benar terisi, ternyata masih ada yang membuatnya merasa penuh: sapaan tulus, dan harapan yang tak pernah lelah dibawa pulang oleh anak-anak kecil yang masih percaya… bahwa kebaikan bisa diwariskan.

Pagi itu, masjid masih remang. Langit kota Malang belum sepenuhnya biru. Sisa hujan semalam masih menempel di sela genti...
05/05/2025

Pagi itu, masjid masih remang. Langit kota Malang belum sepenuhnya biru. Sisa hujan semalam masih menempel di sela genting. Udara dingin menyusup dari jendela kecil yang tak tertutup rapat.

Mbah Taryo membuka mata. Bukan karena suara orang. Bukan karena mimpi. Hanya… terbangun. Karena orang tua tak lagi butuh alasan untuk bangun pagi. Sunyi sudah jadi jam biologis mereka.

Ia duduk di sudut saf, menyandarkan punggung ke tiang kayu. Tangannya bergetar. Bukan karena cuaca. Tapi karena lelah yang menumpuk, dari hari-hari yang tak pernah benar-benar istirahat.

Langit mulai cerah. Tapi tak ada panggilan order. Tak ada anak kecil yang berseru, “Mbah, antar ke toko ya.”

Masjid itu sepi. Satu dua orang masih wirid. Ia bangkit perlahan, berwudhu, lalu berdiri di saf belakang. Dan di sanalah… ia bersujud.

Lalu menangis.
Tanpa tahu kenapa.

Bukan karena musibah. Bukan karena lapar. Tapi karena ada luka yang begitu dalam, sampai ia tak lagi tahu dari mana mulainya. Tangis yang muncul dari rasa penuh, bukan dari tragedi. Penuh karena terlalu lama diam, terlalu banyak sabar yang dipendam.

Ia terisak dalam sujud. Tak ada yang dengar. Hanya Allah.

Dan mungkin itu cukup.

Setelah salam, ia duduk lama. Matanya basah. Tapi ada sedikit ruang di dadanya yang terasa lebih lapang.

Saat keluar masjid, seorang anak kecil mendekat, menyodorkan sekotak kue. “Mbah, ini buat Mbah aja.”

Taryo ingin menolak. Tapi anak itu langsung lari.

Ia lihat kue itu.
Hanya sepotong kecil.
Tapi ia genggam erat.

Seolah itulah satu-satunya bukti bahwa ia… masih diingat.
Masih dianggap ada.

Pagi itu, langit Malang mulai biru.
Dan Mbah Taryo pun melangkah pelan.
Dengan sepeda tuanya.
Dan hati yang meski tetap letih… sedikit lebih kuat.

\

  Sudah dua pekan Mbah Taryo tinggal di masjid itu.Bukan karena tak punya pilihantapi karena hatinya mulai menetap lebih...
04/05/2025



Sudah dua pekan Mbah Taryo tinggal di masjid itu.
Bukan karena tak punya pilihan
tapi karena hatinya mulai menetap lebih dulu, bahkan sebelum tubuhnya betul-betul diterima.

Setiap hari, ia membersihkan karpet sebelum subuh,
menyapu dedaunan yang terbawa angin ke serambi,
dan kadang—tanpa diminta—mengisi galon wudhu dengan memanggul jeriken dari belakang masjid.

Tidak ada yang memintanya.
Tidak ada yang menyuruh.
Tapi Mbah Taryo tahu: ini satu-satunya cara agar ia tak sekadar menumpang… tapi juga ikut menjaga.

Malam itu malam Jumat.
Biasanya, jamaah sedikit lebih banyak.
Karpet wangi baru disemprot, dan suara ngaji terdengar dari anak-anak yang sedang tahfidz ba’da Maghrib.

Tapi malam itu juga—sandal jepit satu-satunya milik Mbah Taryo hilang.

Ia baru sadar saat hendak keluar mengambil udara.
Dua pasang sandal masih tertata di rak…
tapi miliknya tidak ada.

Ia hanya berdiri beberapa detik.
Lalu duduk di anak tangga.
Menatap rak kosong itu… seperti menatap kehilangan yang diam-diam mengintai.

Bagi sebagian orang, sandal hanyalah alas kaki.
Tapi bagi Mbah Taryo, itu adalah satu-satunya yang ia beli sendiri, setelah mengumpulkan receh dari antar-jemput berhari-hari.

Ia tidak marah. Tidak mengadu.
Ia hanya menarik napas…
dan kembali masuk ke dalam.

Di tengah malam, saat semua sudah terlelap,
marbut masjid melihat Mbah Taryo duduk di serambi.
Kakinya telanjang.
Tangannya memegang lap, membersihkan gagang pintu dan keran wudhu satu per satu.

“Lho, Mbah… nggak tidur?”

Mbah Taryo tersenyum tipis.

“Tidur bisa nanti, Pak.
Tapi saya nggak enak kalau besok pagi masih kotor.”

Marbut itu hanya diam.
Tapi sebelum ia pergi, ia meninggalkan sesuatu di samping sajadah Mbah Taryo.
Satu pasang sandal baru.
Bukan mahal. Tapi bersih, dan pas ukurannya.

Mbah Taryo tidak pernah bertanya siapa yang membelikan.
Ia hanya menatapnya…
lalu membisikkan sesuatu dalam sujud panjangnya malam itu:

“Ya Allah…
Terima kasih sudah mengajarkan,
bahwa kehilangan kadang hanya jalan-Mu…
untuk memberi yang lebih layak.”

Malam itu, tidak ada air mata.
Hanya sunyi yang menenangkan.
Dan seorang lelaki tua
yang semakin yakin:
ia tidak sedang menumpang di rumah Allah.
Ia sedang pulang.

Langit Malang sore itu sendu.Gerimis turun pelan di ujung trotoar Pasar Kotalama, saat seorang lelaki tua mendorong sepe...
04/05/2025

Langit Malang sore itu sendu.
Gerimis turun pelan di ujung trotoar Pasar Kotalama, saat seorang lelaki tua mendorong sepeda tuanya dengan langkah berat.

Namanya Mbah Taryo.
Dulu dipanggil Sarwo. Sekarang hanya dikenal sebagai tukang ojek sepeda yang tak pernah menolak order, sekecil apa pun.

Hari itu tak ada yang memanggil.
Tak ada barang diantar.
Tak ada uang tersisa.

Hujan mulai membasahi tubuhnya.
Ia menepi ke sebuah masjid kecil. Tak tahu namanya, hanya melihat cahaya kuning hangat dari dalam.
Ia berharap bisa duduk sebentar.

"Assalamu’alaikum…"
Nafasnya berat. Pundaknya gemetar.
Seorang pria paruh baya mendekat, "Wa’alaikumsalam, Mbah. Dari mana?"

“Saya… cuma numpang sholat. Boleh ya, Pak?”

Setelah wudhu, ia berdiri di saf belakang.
Sholat Maghrib itu terasa panjang. Bukan karena imam, tapi karena lututnya nyeri… dan hatinya sesak.

Ia tak langsung pulang.
Diam. Menunduk. Menahan air mata.

Marbut tadi kembali, "Mbah… nginep sini aja. Buat musafir, masjid ini terbuka."

Ini bukan kali pertama Mbah Taryo kehabisan bekal.
Tapi baru kali ini…
ada yang menawarkan tempat bahkan sebelum ia sempat meminta.

Matanya panas. “Saya tidur di ujung aja, Pak.”

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun…
ia tidur di tempat yang sunyi, tapi damai.

Di saf belakang.
Di atas karpet tak terlalu tebal, tapi jauh lebih lembut dari emperan kota.

Ia menunduk, lalu berbisik:
“Ya Allah… kalau hidup saya cuma segini, jangan cabut kekuatan saya buat ngojek. Tapi kalau Kau punya rencana lain… saya ikhlas. Asal jangan jauhkan saya dari tempat sujud ini.”

Tak ada suara.
Hanya hujan yang turun lirih di luar.
Dan seorang lelaki tua… yang malam itu, tidak lagi tercatat sebagai tamu.
Tapi penjaga yang akan menetap.

HUJAN PAGIHujan turun sejak subuh.Pelan. Tidak deras. Tapi cukup untuk membuat sajadah bagian depan agak lembap, karena ...
04/05/2025

HUJAN PAGI

Hujan turun sejak subuh.
Pelan. Tidak deras. Tapi cukup untuk membuat sajadah bagian depan agak lembap, karena jamaah pertama tadi lupa menutup jendela.

Di sudut masjid, seorang kakek duduk lebih lama dari biasanya.
Sajadah yang ia tempati sedikit kusut, karena ia sering berdiri dan duduk kembali. Seperti sedang menunggu sesuatu. Atau mungkin… seseorang.

Tak ada yang benar-benar tahu siapa namanya.
Anak-anak memanggilnya "Mbah". Orang dewasa menyapanya seperlunya. Tapi setiap hujan datang, ia selalu lebih dulu tiba di masjid. Entah kenapa.

Hari itu, ia hanya membawa satu hal: tas kecil berisi sepasang baju ganti dan handuk lusuh.

Ia salat dua rakaat, kemudian diam. Lama. Menatap tetes air yang turun dari sisi genteng.
Lalu ia berkata lirih, seperti pada Allah, atau mungkin pada dirinya sendiri:
"Kalau boleh memilih, aku ingin wafat di tempat ini. Di atas karpet yang tak pernah memandang hina bajuku yang basah. Di rumah-Mu, yang selalu menyambutku… bahkan ketika dunia tak lagi mengenalku."

Tak ada yang menjawab.
Kecuali suara hujan yang pelan-pelan semakin sunyi.
Dan harum karpet sajadah yang masih hangat, menemaninya dalam keheningan pagi itu.


Karpet ini bukan sekadar alas untuk sujud.
Ia menjadi saksi bisu: dari doa-doa paling jujur yang tak pernah disampaikan di media sosial.
Dari sujud yang tak ingin dipuji.
Dari tangis yang hanya diketahui oleh Allah, dan wangi karpet masjid.

Dan jika hari ini hujan turun lagi…
siapa tahu, ada seseorang yang menunggu kehangatan masjid, lebih dari sekadar tempat berlindung.

📌 Pastikan karpet masjid Anda siap menyambut mereka.
Kami hadir bukan sekadar menjual, tapi merawat jejak ibadah.

📞 Hubungi kami: 08111-993-500

KAKEK YANG TAK PUNYA ONGKOS BUAT PULANGSudah jam 10:30 malam.Langit di luar pekat, seperti tak ingin ditembus cahaya.Di ...
03/05/2025

KAKEK YANG TAK PUNYA ONGKOS BUAT PULANG

Sudah jam 10:30 malam.

Langit di luar pekat, seperti tak ingin ditembus cahaya.

Di sudut masjid, ada seorang kakek yang masih duduk bersandar di dinding. Kopiah putihnya sudah agak kusam. Tangannya menggenggam tas kecil lusuh yang kelihatannya lebih banyak menyimpan kenangan daripada barang.

“Bapak mau saya bantu pesankan ojek?” tanya marbot masjid, pelan.

Kakek itu tersenyum. Tapi tak langsung menjawab.

Lalu dengan suara lirih, ia berkata,

“Ongkosnya lebih mahal dari uang yang saya punya…
jadi biar saya di sini saja dulu, Nak. Besok subuh, kalau jalanan sudah terang, saya jalan kaki pelan-pelan.”

Hening.

Marbot itu tak sanggup berkata apa-apa.

Kakek itu tidak sedang meminta bantuan. Tapi ia sedang menahan rasa malu agar tidak menyusahkan siapa-siapa.

Malam itu, ia tak butuh kasur empuk atau selimut hangat. Ia hanya ingin… tidak diusir.

Dan masjid memberinya tempat. Tempat untuk duduk. Tempat untuk tenang. Tempat untuk diam, tanpa harus merasa menjadi beban.

Kadang, rumah itu bukan soal dinding dan atap. Tapi soal tempat di mana seseorang tidak harus menjelaskan kenapa dia belum pulang.

Dan malam ini… masjid menjadi rumah bagi seorang kakek yang hanya ingin istirahat—bukan karena lelah berjalan, tapi lelah dari hidup yang terlalu sunyi.

Malam makin larut.Masjid mulai sepi.Hanya ada suara detak jam dan sesekali desir angin dari jendela terbuka.Di salah sat...
03/05/2025

Malam makin larut.
Masjid mulai sepi.
Hanya ada suara detak jam dan sesekali desir angin dari jendela terbuka.

Di salah satu sudut lorong…
ada jejak kaki yang tidak lagi kuat melangkah cepat.
Langkahnya pelan, tertatih, tapi tetap datang.

Ia bukan imam, bukan takmir.
Hanya seorang kakek yang selalu duduk di shaf ketiga—tempat yang katanya “pas buat dengar, tapi nggak bikin malu kalau ketiduran.”

Tak ada yang tahu, setiap malam ia datang dengan doa yang sama:
“Ya Allah, panjangkan umurku… bukan untuk mengejar dunia, tapi supaya aku bisa sujud lebih lama lagi..”


Kita sering sibuk memilih motif.
Sibuk bertanya warna apa yang cocok.
Tapi malam ini, aku baru sadar:
yang membuat karpet sajadah istimewa bukanlah desainnya… tapi siapa yang menangis di atasnya.

Semoga setiap masjid yang kita rawat,
menjadi tempat berpulangnya doa-doa yang tak sanggup lagi diteriakkan di dunia.

Karena di antara banyak ruang di bumi,
mungkin hanya sajadah yang benar-benar mendengar.

Masjid itu sunyi.Tapi lantainya menyimpan jejak.Bekas telapak kaki anak kecil yang belajar wudhu.Langkah pelan seorang i...
03/05/2025

Masjid itu sunyi.
Tapi lantainya menyimpan jejak.
Bekas telapak kaki anak kecil yang belajar wudhu.
Langkah pelan seorang ibu yang lututnya mulai rapuh.
Dan sujud kakek tua yang tak pernah disaksikan siapa-siapa.

Karpetnya?
Sudah mulai tipis.
Sudut-sudutnya mulai terangkat.
Warnanya… masih indah, tapi lelah.

Tapi tak ada yang mengeluh.
Karena tempat ibadah… tak pernah meminta.
Ia hanya menerima.

Kadang, yang paling butuh diperhatikan
bukan yang paling banyak bicara,
melainkan yang diam… terlalu lama.

Cara menghubungi donatur berikut contoh proposalnya. Selengkapnya klik :
05/06/2024

Cara menghubungi donatur berikut contoh proposalnya. Selengkapnya klik :

Menghubungi dan membujuk donatur potensial untuk pembangunan masjid merupakan langkah penting dalam memastikan proyek pembangunan dapat berjalan dengan lancar. Proses ini membutuhkan strategi yang

Kini masjid mulai menerapkan sistem teknologi. Bagaimana detailnya? Selengkapnya klik :
05/06/2024

Kini masjid mulai menerapkan sistem teknologi. Bagaimana detailnya? Selengkapnya klik :

Desain interior masjid telah mengalami transformasi yang signifikan selama beberapa dekade terakhir. Dari arsitektur tradisional yang menggunakan bahan-bahan lokal hingga desain modern yang

Address

Grand Emerald Apartment Lantai 1 Blok G 01-WF, Jalan Pegangsaan Dua No. 3 Kelapa Gading
Jakarta
14250

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00
Saturday 08:00 - 14:00

Telephone

+628111993500

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Picasso Rugs & Carpets posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Picasso Rugs & Carpets:

Share