06/05/2025
Lampu masjid redup.
Jam menunjukkan hampir pukul 11 malam.
Mbah Taryo belum juga rebah.
Ia masih duduk bersandar di tiang kayu, memeluk lutut, menatap gelap di luar jendela.
Tak lama, pintu samping dibuka pelan.
Pak Marbot masuk membawa termos kecil.
Ia mendekat, lalu duduk di samping Mbah Taryo tanpa banyak suara.
“Belum ngantuk, Mbah?”
Taryo menoleh pelan, tersenyum kecil.
“Lagi nggak bisa tidur, Pak Marbot.”
“Pikiran?”
Taryo mengangguk.
Hening sejenak. Hanya suara air dituang ke cangkir plastik.
Pak Marbot menyodorkannya.
“Ini teh manis. Sisa dari anak-anak ngaji tadi sore. Masih hangat dikit.”
Taryo menerimanya dengan dua tangan.
Tak ada basa-basi.
“Sampean nggak pernah bosen ya, Mbah, balik ke sini tiap malam?”
“Masjid ini… udah kayak rumah.”
Pak Marbot tertawa kecil, lirih.
“Rumah yang gak pernah protes walau gak bayar sewa, ya?”
Taryo tertawa juga. Tapi cepat kembali diam.
Lalu pelan-pelan berkata:
“Aku tahu tempat ini bukan buat selamanya, Pak. Tapi kadang… cuma di sini aku merasa gak usah pura-pura kuat.”
Pak Marbot tak menjawab. Hanya menepuk pelan bahu Taryo.
“Saya juga sering duduk di pojok itu, Mbah. Kadang nangis sendiri.”
“Lho, Pak Marbot kok…”
“Marbot juga manusia, Mbah. Bukan makhluk gaib.”
Taryo tersenyum. Matanya mulai hangat.
“Anak-anak saya jarang telepon sekarang.
Saya juga nggak mau ganggu.
Tapi ya itu…
kadang pengin ngerasa dicari. Walau cuma ditanya udah makan apa belum.”
“Saya juga.”
“Dan masjid ini… ya paling tidak, dia gak usir kita.”
Mereka diam lama. Teh di tangan mulai dingin.
Tapi hati yang tadi beku, perlahan mencair.
Lalu sebelum beranjak, Pak Marbot berkata:
“Mbah… besok pagi, bantuin saya ya ngangkat karpet. Mau dicuci.”
“Siap. Selama saya masih kuat, saya bantu.”
Pak Marbot tersenyum.
“Selama masih ada yang bisa dibantu, kita ini masih ada gunanya, Mbah.”
Taryo mengangguk.
Tapi dalam hatinya, ia ingin bilang lebih dari itu:
Bahwa obrolan seperti malam ini—sekilas ringan—
adalah satu-satunya cara ia merasa… tidak benar-benar sendirian di dunia yang terus berjalan.
Dan malam pun melanjutkan sunyinya.
Tapi tidak lagi terasa terlalu dingin.