30/05/2025
Resensi singkat dari Galeri Buku Karo
Buat kita yang di luar Sumatera utara bisa mendapatkannya di https://www.tokopedia.com/lacolocal/buku-karo-terbaru-perlanja-sira-1731341721715639365?utm_source=salinlink&utm_medium=share&utm_campaign=pdp-gpprdhidd5m7-16649076481-0
Atau hubungi langsung lewat WhatsApp: https://wa.me/c/6287758773737
Mejuah-juah kita kerina
Perlanja Sira
Perlanja Sira (pemanggul garam) merupakan profesi kurir dimasa pra kolonial sampai masa kolonial. Mereka juga merupakan penghubung antara orang Karo jahe (hilir) dan orang Karo di gugung (hulu). Bukan hanya garam yg mereka bawa dari hilir, ada linen, tembikar, senapan, geretan api, candu dll. Dari gunung mereka membawa beras, lada, kemenyan, pinang dll.
Belum ada jalan mulus, jalur setapak biasa ditempuh selama enam hari dari Belawan ke dataran tinggi (Christian D. Haan). Bermalam di perjalanan melalui hutan rimba dengan melalui banyak rintangan alam. Hewan buas, cuaca, logistik, tempat pemberhentian dan lain sebagainya. Mereka tergolong orang-orang tangguh dengan bekal keyakinan dan fisik yg mendukung. Hanya orang terpilih dapat melakukan itu. Ada 3 rute jalan populer yg mereka lalui, yakni: jalur Delitua Buluh Awar (yg populer), jalur Sembahe dan jalur Binjai Langkat. Meski Dr. Suprayitno dkk menulis ada enam jalur perlintasan Perlanja Sira. Setelah kolonial membuka rute jalan Medan ke Berastagi, peran Perlanja Sira mulai pudar.
Buku Perlanja Sira
Penulis: Dr. Suprayitno, Ratna dan Handoko
Halaman: 200
Terbit: Maret 2005
Penerbit: Yayasan Al-Hayat, Medan
ISBN : 978-623-7186-71-7