28/09/2026
Beginilah Ilmu (Mungkin) Mulai Dicabut di Abad Ini
Indratno Widiarto
Beberapa hari lalu saya teringat lagi pada sebuah pembahasan yang pernah kita tulis:
“Ketika ilmu dicabut secara berangsur.”
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ilmu tidak dicabut sekaligus dari manusia. Ia dicabut dengan wafatnya para ulama. Setelah itu manusia mengangkat orang-orang yang tidak berilmu sebagai rujukan. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.
Dulu kita membayangkan “dicabutnya ilmu” sebagai hilangnya buku, hancurnya perpustakaan, wafatnya guru, atau terputusnya tradisi belajar.
Tetapi mungkin abad ini sedang memperlihatkan bentuk yang berbeda.
Ilmunya tidak dihancurkan.
Ilmunya justru sedang dikumpulkan.
Dalam jumlah yang sangat besar.
Dan kemudian dipindahkan ke mesin.
Lihat apa yang sedang terjadi di Jepang.
Di Jimbocho, Tokyo—kawasan yang terkenal sebagai salah satu pusat toko buku bekas terbesar di dunia—para pedagang buku dilaporkan mengalami sesuatu yang tidak biasa sejak sekitar Agustus.
Pesanan buku dalam jumlah besar dari luar negeri meningkat drastis.
Ada toko yang sebelumnya menjual beberapa puluh buku, kemudian bisa menjual sekitar 100 buku sehari.
Ada p**a yang melaporkan penjualan meningkat sampai lima kali lipat.
Yang menarik, buku-buku itu bukan terutama novel populer.
Justru banyak yang sangat spesifik:
filsafat,
sejarah,
kedokteran,
hukum,
kebudayaan zaman Edo,
politik Jepang,
dan berbagai buku niche lainnya.
Beberapa toko bahkan menemukan pola yang semakin aneh.
Pesanan datang dari akun yang berbeda-beda, tetapi semuanya dikirim menuju pusat logistik yang sama.
Salah satu penjual bahkan menjual lebih dari 1.000 buku dan mencurigai pesanan tersebut dilakukan menggunakan sistem otomatis karena order datang dalam interval yang sangat teratur.
Menurut laporan Nippon TV, data perdagangan menunjukkan lebih dari 50 ton buku Jepang telah diekspor ke Amerika Serikat sejak tahun lalu—yang secara kasar bisa setara dengan sekitar 100.000 buku.
Para pedagang buku mulai menduga:
buku-buku itu bukan dibeli untuk dibaca manusia.
Buku-buku itu mungkin sedang dibeli untuk menjadi bahan pelatihan AI.
Dan kalau benar, ini bukan sekadar cerita tentang industri buku.
Ini cerita tentang sesuatu yang jauh lebih besar:
perpindahan pengetahuan manusia.
Karena buku yang selama ratusan tahun berada di tangan manusia, kini bisa mengalami perjalanan yang berbeda.
Dibeli.
Dikirim.
Dipindai.
Diubah menjadi data.
Kemudian masuk ke model AI.
Dan manusia tidak lagi perlu memegang bukunya.
---
Kasus Amazon bahkan lebih ekstrem.
Pada Agustus 2026, investigasi 404 Media melacak sebuah pesanan sekitar 1.000 buku menggunakan AirTag yang disisipkan ke salah satu buku.
Jejaknya berakhir di fasilitas Amazon di Las Vegas.
Di sana, menurut laporan tersebut, buku-buku diproses oleh unit yang dikenal sebagai VGT3.
Pekerja dilaporkan memotong bagian jilid buku agar halaman bisa dipindai lebih cepat.
Akibatnya?
Buku fisiknya rusak dan tidak bisa lagi digunakan seperti semula.
Amazon sendiri mengonfirmasi bahwa mereka membeli buku melalui jalur komersial untuk membantu mengembangkan dan meningkatkan produk serta layanan mereka. Namun perusahaan tidak menjelaskan secara spesifik buku mana yang digunakan untuk model apa.
Sekilas, tidak ada masalah.
Bukankah isinya sudah dipindai?
Bukankah sekarang kita bisa membaca teksnya secara digital?
Tetapi justru di sinilah sesuatu yang lebih besar perlu kita pikirkan.
Bayangkan sebuah buku tua.
Penulisnya sudah meninggal.
Penerbitnya mungkin sudah tidak ada.
Bukunya mungkin sudah langka.
Tidak banyak lagi orang yang membacanya.
Lalu seseorang membelinya.
Memindainya.
Mengambil seluruh isinya.
Dan setelah itu buku fisiknya dihancurkan.
Pengetahuan di dalamnya tetap hidup.
Tetapi medianya mati.
Dan pengetahuan tersebut kini berada di dalam sebuah sistem yang dimiliki dan dikendalikan oleh pihak lain.
Di sinilah makna “ilmu dicabut” menjadi menarik untuk direnungkan.
Dulu ilmu bisa dicabut karena manusia kehilangan gurunya.
Sekarang ilmu bisa “dicabut” karena manusia kehilangan akses langsung kepada sumbernya.
Kita tidak lagi membeli buku.
Kita bertanya kepada AI.
Kita tidak lagi mencari banyak referensi.
AI yang merangkum.
Kita tidak lagi membaca puluhan buku.
AI yang menjelaskan.
Kita tidak lagi menghafal.
AI yang menyimpan.
Kita bahkan mungkin suatu hari tidak lagi tahu dari mana sebuah gagasan berasal.
Kita hanya tahu:
“Tanya AI.”
Dan di situlah paradoksnya.
Semakin banyak pengetahuan manusia dimasukkan ke dalam mesin, semakin sedikit manusia mungkin merasa perlu memiliki pengetahuan itu sendiri.
AI menjadi sangat pintar.
Sementara manusia bisa menjadi semakin bergantung.
Ada perbedaan besar antara memiliki akses kepada ilmu dan memiliki ilmu.
Google bisa memberikan jawaban.
Buku bisa memberikan pengetahuan.
Guru bisa memberikan pemahaman.
Tetapi semuanya masih mengharuskan manusia berpikir.
AI dapat melangkah lebih jauh.
Ia bisa mengambil ribuan sumber, menyusun kembali, merangkum, membandingkan, kemudian memberikan jawaban dalam hitungan detik.
Sangat nyaman.
Tetapi kenyamanan mempunyai harga.
Kalau generasi berikutnya berhenti membaca karena semuanya bisa ditanyakan kepada AI, maka yang terjadi bukan hanya perubahan teknologi.
Terjadi perubahan cara manusia menyimpan peradaban di dalam dirinya.
Dulu perpustakaan adalah memori peradaban.
Kemudian buku menjadi memori pribadi.
Sekarang model AI mulai menjadi semacam memori sintetis.
Dan pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah AI tahu?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Siapa yang menguasai apa yang AI tahu?”
Karena pengetahuan yang berada di dalam kepala manusia tersebar.
Guru memiliki sebagian.
Dokter memiliki sebagian.
Sejarawan memiliki sebagian.
Petani memiliki sebagian.
Pengrajin memiliki sebagian.
Orang tua memiliki sebagian.
Buku menyimpan sebagian.
Perpustakaan menyimpan sebagian.
Tidak ada satu pihak yang menguasai semuanya.
Tetapi ketika pengetahuan dalam jumlah luar biasa besar dikumpulkan ke dalam beberapa sistem AI yang sangat besar, struktur kekuasaannya berubah.
Pengetahuan mulai terkonsentrasi.
Dan siapa pun yang menguasai sistem tersebut memiliki kekuatan yang tidak dimiliki perpustakaan tradisional.
Bukan hanya menyimpan pengetahuan.
Tetapi juga:
memilih apa yang dimasukkan,
memilih apa yang tidak dimasukkan,
menentukan bagaimana informasi diproses,
menentukan bagaimana jawaban diberikan,
dan pada akhirnya memengaruhi bagaimana manusia memahami dunia.
Karena itu saya tidak melihat kisah Jimbocho sekadar sebagai cerita tentang buku bekas.
Saya melihatnya sebagai salah satu tanda kecil dari perubahan besar.
Peradaban sedang memasuki zaman ketika pengetahuan tidak hanya dipelajari manusia.
Pengetahuan sedang dipanen.
Dikumpulkan.
Didigitalkan.
Dilatihkan kepada mesin.
Dan mungkin suatu hari, manusia akan semakin bergantung kepada mesin untuk mengakses sesuatu yang dahulu harus mereka pelajari sendiri.
Ini bukan berarti AI adalah musuh.
Justru sebaliknya.
AI bisa menjadi salah satu alat paling luar biasa yang pernah dibuat manusia untuk memperluas kemampuan berpikir.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan:
alat yang menyimpan ilmu bukanlah manusia yang memahami ilmu.
Kita boleh menggunakan AI untuk mencari jawaban.
Tetapi jangan sampai kita berhenti membaca.
Kita boleh menggunakan AI untuk merangkum buku.
Tetapi jangan sampai kita kehilangan kebiasaan membaca buku.
Kita boleh meminta AI menjelaskan sejarah.
Tetapi jangan sampai kita menyerahkan seluruh kemampuan memahami sejarah kepada AI.
Karena kalau suatu hari manusia tidak lagi menyimpan ilmu di dalam dirinya, sementara sebagian besar ilmu manusia tersimpan di dalam sistem yang dimiliki segelintir perusahaan…
maka mungkin bentuk “dicabutnya ilmu” pada abad ini bukanlah ketika buku dibakar.
Melainkan ketika manusia tidak lagi merasa perlu memiliki buku.
Dan yang lebih mengkhawatirkan:
bukan ketika ilmu hilang dari dunia.
Tetapi ketika ilmu masih ada—
namun manusia sudah tidak mampu mencarinya tanpa perantara mesin.
Mungkin itulah salah satu bentuk paling halus dari dicabutnya ilmu di abad ini.
Bukan ilmu yang dimusnahkan.
Melainkan ilmu yang perlahan dipindahkan dari kepala manusia ke mesin.
𝗜𝗪𝗗