04/01/2022
Liarnya persepsi suara!
Mendengarkan musik adalah salah satu hobby yang banyak digemari, terlebih lagi jika hobby ini berlanjut menjadi audiophile, istilah umumnya pecinta audio. Yang dicari adalah suara yang terbaik, terindah, terakurat dan berbagai ungkapan kesempurnaan lainnya. Namun seperti halnya sesuatu yang tidak kasat mata, audio menjadi hal yang sangat subjektif diantara penikmatnya. Kali ini kita akan mengesampingkan faktor objektif dan melihat faktor-faktor subjektifnya.
Dalam pembahasan subjektifpun kita akan tetap mengacu pada keilmuan, dimana penilaian, persepsi, tidaklah asal saja dijadikan kesimp**an tanpa melalui percobaan yang sahih. Sangat beruntung ada para ahli dan peneliti yang telah melakukan hal tersebut, karena untuk melakukan percobaan yang keakuratannya sesuai standar studi bukanlah hal yang mudah, diperlukan dana, waktu, usaha, pemahaman, dan personal-personal yang sesuai. Pembahasan bersumber dari presentasi Dr. Floyd Toole pada tahun 2015 (sumber: https://www.youtube.com/watch?v=zrpUDuUtxPM ).
Faktor utama yang mempengaruhi subjektifitas adalah kita melihat speaker yang sedang dibunyikan, sehingga syarat utama untuk mengurangi bias adalah dengan menghilangkan faktor ini, sehingga muncullah blind test. Kita akan bisa melihat bagaimana perbandingan antara uji dengan melihat (sighted) dan tidak melihat (blinded) speaker yang diuji. Dalam uji ini (lihat grafik) terlihat bahwa uji dengan melihat fisik speaker, yaitu speaker branded, yang memiliki kualitas box dan finishing yang lebih meyakinkan mendapat penilaian yang lebih tinggi dibanding speaker yang secara merek berharga lebih murah, ada bagian box yang memakai material plastik, tidak terlalu menarik finishingnya. Tampak luar dan citra merek speaker yang lebih baik condong mendapat penilaian yang lebih tinggi.
Berikutnya ada uji speaker dengan menggunakan records (konten audio) yang berbeda pada uji blinded dan sighted. Pada uji blinded terlihat jelas adanya perbedaan penilaian speaker saat diuji menggunakan records yang berbeda, namun saat uji sighted penilaian yang diberikan berakhir dengan nilai yang sama. Dari uji ini terlihat bahwa jika uji dilakukan secara blinded menggunakan records yang berbeda, akan memberikan penilaian yang berbeda terhadap speaker. Di records A speaker mendapat penilaian tinggi, di records lainnya belum tentu mendapatkan penilaian tinggi. Namun begitu kita melakukan uji dengan bisa melihat speakernya, walaupun memutar konten yang berbeda penilaian kita terhadap kualitas speaker menjadi cenderung sama, karena kita sudah tahu bahwa yang diuji adalah speaker yang sama.
Uji berikutnya adalah penempatan speaker baik secara blinded atau sighted. Pada uji blinded terlihat perbedaan penilaian yang signifikan terhadap perubahan penempatan speaker atau posisi dengar, sedangkan pada uji sighted perbedaan penilaian tidak terlalu jauh berbeda. Ini menunjukkan sebenarnya faktor akustik ruangan sangatlah berpengaruh terhadap penilaian speaker, sedangkan jika kita bisa melihat speaker saat pengujian maka keakuratan penilaian speaker sudah cenderung berkurang, karena sudah terpengaruh bahwa kita tahu yang dibandingkan adalah speaker yang sama.
Uji selanjutnya adalah berdasarkan faktor pengalaman mendengar para penguji. Hasil uji ini menunjukkan bahwa semakin seseorang berpengalaman dalam listening akan semakin sulit untuk memberikan penilaian yang tinggi, sebaliknya semakin kurang pengalaman listeningnya kecenderungannya memberikan poin penilaian akan semakin tinggi. Kesan ‘wow’/hype yang didapatkan oleh orang yang belum/sedikit memiliki pengalaman mendengarkan audio berkualitas sangat berpengaruh dalam memberikan penilaian. Sebaliknya semakin berpengalaman seseorang dalam mendengarkan audio yang berkualitas justru akan semakin sulit memberikan penilaian yang tinggi.
Persepsi manusia terhadap audio begitu liar, antara melihat dan tidak melihat yang diuji saja bisa begitu berbeda, apalagi masih banyak hal dan faktor lainnya yang mempengaruhi persepsi audio. Delusi, ilusi, halusinasi, atau kenyataan?