07/09/2026
Ngimpi apa…
payung batik karya dari desa bisa diapresiasi langsung oleh GKR Hemas dan Gusti Putri.
Kemarin saat pameran, ternyata masih banyak yang kaget ketika tahu kalau payung batik ini bukan hasil print atau sablon.
Setiap payung benar-benar dicanting satu per satu dengan tangan oleh para pembatik kami.
Dari pertanyaan-pertanyaan pengunjung itu aku jadi sadar,
ternyata masih banyak orang yang belum tahu proses panjang di balik sebuah payung batik.
Padahal di balik satu payung,
ada waktu, ketelatenan, dan kehidupan para pembatik yang ikut bergantung di sana.
Payung batik memang kami buat sebagai sebuah inovasi.
Tapi tujuan besarnya bukan sekedar membuat produk yang berbeda.
Kami ingin pekerjaan membatik tetap punya masa depan.
Karena kalau membatik terus dianggap sebagai pekerjaan dengan penghasilan yang rendah,
bagaimana kita bisa berharap anak muda mau meneruskannya?
Itulah kenapa kami mencoba membuat produk batik yang lebih relevan, seperti payung batik ini yang bisa digunakan untuk hujan maupun panas,
tanpa meninggalkan proses tradisionalnya.
Lewat payung batik ini,
kami juga berusaha supaya para pembatik itu mendapatkan upah yang lebih layak.
Jadi ketika payung batik ini mendapat apresiasi dari GKR Hemas dan Gusti Putri,
rasanya bukan cuma senang.
Ada harapan baru,
bahwa apa yang selama ini kami perjuangkan ternyata terlihat dan dihargai.
Dan buat kami, momen itu seperti menjadi pengingat.
Melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan merasa bangga.
Budaya harus punya pasar.
Pembatik harus punya pekerjaan.
Dan orang-orang yang menjaganya juga harus bisa hidup dengan layak.
Semoga apresiasi ini membuka lebih banyak mata,
bahwa inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi.
Kadang justru lewat inovasi,
tradisi bisa tetap hidup dan bertahan lebih lama.
Maturnuwun.